Langsung ke konten utama

Postingan

BEING A JOURNALIST

Sekitar lima tahun lalu, ketika saya memutuskan untuk aktif di sebuah organisasi intra sekolah yang kegiatannya berbasis jurnalistik, saya mendapatkan suatu penanaman paham bahwa seorang jurnalis mendedikasikan hidup bagi kebenaran. Kalimat itu berdengung di tiap proses saya mencari, mengolah dan menerbitkan laporan berita, sampai suatu ketika pada titik tertentu saya diminta untuk berhenti menuliskan berita, menyajikan kebenaran demi kepentingan satu pihak. Saat itu, karena saya belum cukup kuat memahami falsafah hidup pers, dan jujur tidak cukup berani untuk ‘mati’ demi sebuah kebenaran. Pertanyaan – pertanyaan mengapa tidak boleh menuliskan kebenaran, kenapa kebenaran dibiarkan tak terungkap, dan sebagainya hanya tertelan begitu saja. Proses saya sebagai jurnalis di bangku sekolah akhirnya tidak lebih sebagai seorang juru tulis yang paham penulisan berita 5W + 1H. Sementara kalimat ‘jurnalis mendedikasikan hidup bagi kebenaran’, berakhir sebagai slogan semata. Tapi se...

17th September

Simon Weil, Hugo Chavez, sampai Bill Kovach dan Rachel Maddow. Nama – nama itu sejajar dalam posisi sekian banyak orang hebat untuk saya. Tapi secara khusus tidak akan saya bahas mereka atau karya – karya dan pemikiran – pemikirannya, yang sebenarnya sudah sangat banyak dituliskan oleh orang – orang lain yang juga mengagumi mereka. Tanpa mengurangi sedikitpun pengaruh mereka bagi diri saya dan proses belajar saya, pada malam yang tampak lebih tenang dan gelap ini. Saya akan menceritakan mereka yang lainnya, delapan belas orang yang tidak hanya hadir selintas dalam perjalanan hidup perempuan keras kepala seperti saya. Mereka, delapan belas orang yang saya temukan secara bersamaan dan menyatu dalam satu konsep keluarga dan partner kerja professional. Dari delapan belas orang itu, ada tiga poros yang saya andaikan mereka sebagai matahari, bulan dan bintang. Poros pertama, sang matahari. Seorang perempuan yang memiliki kebesaran jiwa luar biasa, kemampuan memimpin yang tidak bis...

PRINT MEDIA ISN’T GAME OVER Study about print media versus digital media

gambar : google             Everyone believe that media has a big strength, although it’s difficult to decide what kind of the strength. Actually the principal strength of media that must be known is based on the fact which declares that media can build opinion about all events that happened in the world. Media also has an influence for the concept or idea and measure of the people. As we know that there are two kinds of media. They are print media and digital media.             Print media begin in about 1690 signed with some newspaper in North America. But, Chinese has found paper as a media to communicate on 105 M. Dalam perkembangannya kemudian, media cetak mengalami proses yang cukup lambat hingga tahun 1800-an. Namun, pengaruhnya tidak bisa dipungkiri sangat besar terhadap peradaban manusia. Berbagai peristiwa bersejarah tak lepas dari pengaruh medi...