Langsung ke konten utama

Postingan

Kisah di Balik Kisah yang Diterbitkan

  Tanpa kesempurnaan naskah ini bisa terlahir, Kalimat itu menjadi penanda dan saya letakkan di halaman pembuka Novel SEMU, novel pertama yang saya terbitkan. Seperti maknanya secara tekstual, saya ingin mencitrakan bahwa untuk menghasilkan sesuatu, kita tidak selalu butuh sederet konsepsi rumit dan indah, atau hal – hal yang lebih mengotakkan kesempurnaan. Secara pribadi, saya memang tidak memungkiri pernah ada di titik dimana saya lebih banyak menghabiskan hari dengan menulis rencana, rencana, dan rencana. Atau target, tujuan, target, tujuan. Tulisan – tulisan yang tidak membawa saya melangkah kemanapun. Sampai pada akhirnya, saya berhenti dan merubah kebiasaan di masa lalu. Sesederhana itu, saya merasa melakukan apa yang pernah dituliskan Paulo Coelho di salah satu bukunya. Kurang lebih seperti ini yang saya pahami; “Sangat penting untuk membiarkan hal - hal tertentu berlalu. Lepaskan saja. Biarkan. Orang perlu mengerti bahwa hidup ini tidak pasti; kadang - k...

Dihempaskan Waktu

Baru kemarin rasanya, saya berada pada momentum mengenakan toga, membawa bunga - bunga, tersenyum dan memeluk teman - teman. Lalu sore kemarin, di dua hari setelah perayaan tujuh belasan. Saya kembali hadir menikmati euforia wisuda milik beberapa teman. Eh, rupanya setelah diingat - ingat saya juga sudah sempat hadir di wisuda periode sebelumnya. Jadi karena saya tidak sengaja menjadi golongan orang - orang yang terburu - buru lulus, maka saya dan beberapa orang tidak bisa bersama - sama diwisuda dengan sesama angkatan. Sepertinya sudah begitu adanya kehidupan perkuliahan, masuk sama - sama tetapi belum tentu keluar pun sama - sama. Intinya, seangkatan itu wisudanya tersebar ke beberapa periode dalam kurun tahun ini. Sehingga untuk kepedulian dan penghormatan kami menjadi saling mengunjungi momen pelepasan, hal ini juga sebenarnya diharapkan, bisa jadi semacam usaha memelihara rasa kedekatan dengan sesama angkatan, sekalipun tidak diwisuda bareng.  Sudah dua kali saya menjadi p...

Magang dan Kenikmatan Paradoksal Wartawan

Sore dan sinar senja yang hangat adalah latar bagaimana karir magang saya sebagai wartawan harian pagi berakhir indah, dan damai. Saya punya tiga orang partner kerja yang luar biasa. Dua mentor khusus yang meski dalam pengajarannya sungguh bertolak belakang, tapi sangat berkontribusi mempertegas ritme kerja wartawan yang harus saya pahami dan lakoni. Masih terputar jelas dalam ingatan, sore – sore pertama kali kami datang di kantor redaksi. Pimpinan umumnya perempuan, cerdas, ramah, tidak suka basa – basi. Keesokan harinya kami segera diperkenalkan dengan pimpinan redaksi, redaktur, dan manajer ekonomi bisnis. Perkenalan khas orang – orang media, ringkas. Sebab setelahnya yang lebih penting. Pengaturan desk kerja, saya dan dua orang lainnya diletakkan pada posisi reporter untuk area liputan kota dan pemerintahan serta ekonomi bisnis. Sementara seorang lain ditempatkan sebagai pengelola naskah berita online. Di kursi sofa panjang berwarna biru, kami berempat duduk sal...

Suatu hari saya hanya berakhir sendiri..

Dulu saya sanggup menganggap jenis kesendirian ini sebagai kemewahan yang menentramkan ataupun kesederhanaan yang bersahaja. Rasanya saya tidak terima jika harus berbagi waktu dan rasa untuk orang lain. Membaca, duduk melamun di trotoar, mensketsa keramaian jalanan, pergi berkendara di tengah malam, dan semua hal yang saya inginkan hanya ingin saya lalui sendirian. Sendirian. Sendirian. Selama sembilan belas tahun kesendirian itu saya percayai lebih dari apapun. Dan itu begitu menyenangkan, karena saat saya bertemu masalah atau saat saya bahagia, saya tahu itu datang dari diri saya sendiri. Lalu, di puncak keletihan, kegelisahan, kesenangan, kenyamanan saya hanya harus segera berlari pada Tuhan. Hanya Tuhan dan Saya…. Suatu hari.. Untuk pertama kalinya saya tidak lagi bisa memesrai diri saya sendiri ataupun memesrai Tuhan dalam kesendirian. Suatu hari saya ingin menukar waktu – waktu sendiri saya untuk bisa duduk bersamanya. Seseorang yang bahkan tidak pernah saya sangka akan le...

JURNALIS; ANTARA MESIN DAN MALAIKAT

Di tengah kegamangan berproses menemukan ritme sebagai pewarta, saya dibawa bertemu dengan seseorang sore itu. Salah satu jurnalis di sebuah media swasta yang berakusisi dengan media Amerika, CNN. Tidak disangka – sangka pertemuan yang awalnya dijadwalkan untuk memenuhi tugas mata kuliah etika jurnalistik, berbuah menjadi satu titik penegasan bagi saya untuk tidak berhenti dan meninggalkan proses belajar sebagai seorang insan pers. Jungkir balik liputan demi liputan yang saya lalui selama ini memberikan pemahaman praktis bahwa basic menjadi seorang jurnalis memang skeptic dan curiosity, tapi laku seorang jurnalis dalam menyajikan berita tidak cukup itu. Sebagai sebuah profesi yang berkaitan dengan kepentingan banyak pihak, jurnalis punya etik – etik tertentu untuk melindungi hak – hak publik. Itu yang seringkali masih banyak diabaikan oleh jurnalis negeri ini. Untuk itu, di tempat saya ditempa, mata kuliah etika jurnalistik menjadi satu keharusan dipahami dan diaplikasikan, demi ...

BORN

Semua ini saya dapatkan saat proses pendewasaan saya menuju usia dua puluh tahun.  LONE  Untuk melawan penderitaan yang mungkin datang dari hubungan seseorang dengan orang lain, usaha perlindungan yang paling cepat dilakukan adalah tindakan isolasi sukarela, mengasingkan diri dari orang lain. Kebahagiaan yang bisa dicapai melalui jalur ini adalah ketenangan. ( from freud ) THYMOS "Hasrat untuk memperoleh pengakuan" : Plato telah berbicara tentang thymos atau kesemangatan (spiritedness), Machiavelli tentang hasrat manusia memperoleh kemuliaan, Hobbes tentang amour prope-nya, Alexander Hamilton dari cinta akan kemasyhuran, James Madison tentang ambisi, Hegel tentang pengakuan, dan Nietzsche tentang manusia sebagai binatang berpipi merah.  ( from f. fukuyama ) Don't you ever grow up, it could stay this simple No one's ever burned you, nothing's ever left you scarred And even though you want to, just try to never grow up Take pictu...

PAIR

A lot of people have many hobbies, more than one. Maybe two, or three. I might be one of them. From many activities that I’ve done, reading books and watching films are two things that are most often done and I love both of them. Time passed, till one day my ego creates a childish thing with no clearly reason. I started making problem with my own hobbies, I want to force of it, I think there must be one thing more beloved and become a priority. I was introduced to the two activities at the same time, so perhaps I felt in love with them at the same time too. Then it’s hard to choose which the first thing I loved and going to be electable and maintained. But I still wouldn’t stop to compare each other. I asked which the better for me? Reading books and watching films are giving me a comfort zone, but in many ways I realize that reading a book is better, it use to intellectual development. Moreover, as someone who did learning process, reading becomes a necessity. The term in a s...