Langsung ke konten utama

Postingan

Suatu hari saya hanya berakhir sendiri..

Dulu saya sanggup menganggap jenis kesendirian ini sebagai kemewahan yang menentramkan ataupun kesederhanaan yang bersahaja. Rasanya saya tidak terima jika harus berbagi waktu dan rasa untuk orang lain. Membaca, duduk melamun di trotoar, mensketsa keramaian jalanan, pergi berkendara di tengah malam, dan semua hal yang saya inginkan hanya ingin saya lalui sendirian. Sendirian. Sendirian. Selama sembilan belas tahun kesendirian itu saya percayai lebih dari apapun. Dan itu begitu menyenangkan, karena saat saya bertemu masalah atau saat saya bahagia, saya tahu itu datang dari diri saya sendiri. Lalu, di puncak keletihan, kegelisahan, kesenangan, kenyamanan saya hanya harus segera berlari pada Tuhan. Hanya Tuhan dan Saya…. Suatu hari.. Untuk pertama kalinya saya tidak lagi bisa memesrai diri saya sendiri ataupun memesrai Tuhan dalam kesendirian. Suatu hari saya ingin menukar waktu – waktu sendiri saya untuk bisa duduk bersamanya. Seseorang yang bahkan tidak pernah saya sangka akan le...

JURNALIS; ANTARA MESIN DAN MALAIKAT

Di tengah kegamangan berproses menemukan ritme sebagai pewarta, saya dibawa bertemu dengan seseorang sore itu. Salah satu jurnalis di sebuah media swasta yang berakusisi dengan media Amerika, CNN. Tidak disangka – sangka pertemuan yang awalnya dijadwalkan untuk memenuhi tugas mata kuliah etika jurnalistik, berbuah menjadi satu titik penegasan bagi saya untuk tidak berhenti dan meninggalkan proses belajar sebagai seorang insan pers. Jungkir balik liputan demi liputan yang saya lalui selama ini memberikan pemahaman praktis bahwa basic menjadi seorang jurnalis memang skeptic dan curiosity, tapi laku seorang jurnalis dalam menyajikan berita tidak cukup itu. Sebagai sebuah profesi yang berkaitan dengan kepentingan banyak pihak, jurnalis punya etik – etik tertentu untuk melindungi hak – hak publik. Itu yang seringkali masih banyak diabaikan oleh jurnalis negeri ini. Untuk itu, di tempat saya ditempa, mata kuliah etika jurnalistik menjadi satu keharusan dipahami dan diaplikasikan, demi ...

BORN

Semua ini saya dapatkan saat proses pendewasaan saya menuju usia dua puluh tahun.  LONE  Untuk melawan penderitaan yang mungkin datang dari hubungan seseorang dengan orang lain, usaha perlindungan yang paling cepat dilakukan adalah tindakan isolasi sukarela, mengasingkan diri dari orang lain. Kebahagiaan yang bisa dicapai melalui jalur ini adalah ketenangan. ( from freud ) THYMOS "Hasrat untuk memperoleh pengakuan" : Plato telah berbicara tentang thymos atau kesemangatan (spiritedness), Machiavelli tentang hasrat manusia memperoleh kemuliaan, Hobbes tentang amour prope-nya, Alexander Hamilton dari cinta akan kemasyhuran, James Madison tentang ambisi, Hegel tentang pengakuan, dan Nietzsche tentang manusia sebagai binatang berpipi merah.  ( from f. fukuyama ) Don't you ever grow up, it could stay this simple No one's ever burned you, nothing's ever left you scarred And even though you want to, just try to never grow up Take pictu...

PAIR

A lot of people have many hobbies, more than one. Maybe two, or three. I might be one of them. From many activities that I’ve done, reading books and watching films are two things that are most often done and I love both of them. Time passed, till one day my ego creates a childish thing with no clearly reason. I started making problem with my own hobbies, I want to force of it, I think there must be one thing more beloved and become a priority. I was introduced to the two activities at the same time, so perhaps I felt in love with them at the same time too. Then it’s hard to choose which the first thing I loved and going to be electable and maintained. But I still wouldn’t stop to compare each other. I asked which the better for me? Reading books and watching films are giving me a comfort zone, but in many ways I realize that reading a book is better, it use to intellectual development. Moreover, as someone who did learning process, reading becomes a necessity. The term in a s...

BEING A JOURNALIST

Sekitar lima tahun lalu, ketika saya memutuskan untuk aktif di sebuah organisasi intra sekolah yang kegiatannya berbasis jurnalistik, saya mendapatkan suatu penanaman paham bahwa seorang jurnalis mendedikasikan hidup bagi kebenaran. Kalimat itu berdengung di tiap proses saya mencari, mengolah dan menerbitkan laporan berita, sampai suatu ketika pada titik tertentu saya diminta untuk berhenti menuliskan berita, menyajikan kebenaran demi kepentingan satu pihak. Saat itu, karena saya belum cukup kuat memahami falsafah hidup pers, dan jujur tidak cukup berani untuk ‘mati’ demi sebuah kebenaran. Pertanyaan – pertanyaan mengapa tidak boleh menuliskan kebenaran, kenapa kebenaran dibiarkan tak terungkap, dan sebagainya hanya tertelan begitu saja. Proses saya sebagai jurnalis di bangku sekolah akhirnya tidak lebih sebagai seorang juru tulis yang paham penulisan berita 5W + 1H. Sementara kalimat ‘jurnalis mendedikasikan hidup bagi kebenaran’, berakhir sebagai slogan semata. Tapi se...

17th September

Simon Weil, Hugo Chavez, sampai Bill Kovach dan Rachel Maddow. Nama – nama itu sejajar dalam posisi sekian banyak orang hebat untuk saya. Tapi secara khusus tidak akan saya bahas mereka atau karya – karya dan pemikiran – pemikirannya, yang sebenarnya sudah sangat banyak dituliskan oleh orang – orang lain yang juga mengagumi mereka. Tanpa mengurangi sedikitpun pengaruh mereka bagi diri saya dan proses belajar saya, pada malam yang tampak lebih tenang dan gelap ini. Saya akan menceritakan mereka yang lainnya, delapan belas orang yang tidak hanya hadir selintas dalam perjalanan hidup perempuan keras kepala seperti saya. Mereka, delapan belas orang yang saya temukan secara bersamaan dan menyatu dalam satu konsep keluarga dan partner kerja professional. Dari delapan belas orang itu, ada tiga poros yang saya andaikan mereka sebagai matahari, bulan dan bintang. Poros pertama, sang matahari. Seorang perempuan yang memiliki kebesaran jiwa luar biasa, kemampuan memimpin yang tidak bis...

PRINT MEDIA ISN’T GAME OVER Study about print media versus digital media

gambar : google             Everyone believe that media has a big strength, although it’s difficult to decide what kind of the strength. Actually the principal strength of media that must be known is based on the fact which declares that media can build opinion about all events that happened in the world. Media also has an influence for the concept or idea and measure of the people. As we know that there are two kinds of media. They are print media and digital media.             Print media begin in about 1690 signed with some newspaper in North America. But, Chinese has found paper as a media to communicate on 105 M. Dalam perkembangannya kemudian, media cetak mengalami proses yang cukup lambat hingga tahun 1800-an. Namun, pengaruhnya tidak bisa dipungkiri sangat besar terhadap peradaban manusia. Berbagai peristiwa bersejarah tak lepas dari pengaruh medi...